*Tim SAR Temukan Korban KM Putri Sakinah, Publik Kaitkan Penemuan dengan Ritual Adat Pesisir*

Labuan Bajo,Bajo Pedia.com – Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu jenazah korban tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah pada Minggu pagi, 4 Januari 2026, di perairan Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penemuan ini tidak hanya menjadi titik terang dalam operasi pencarian, tetapi juga memicu perhatian luas publik karena didahului oleh ritual adat pesisir yang dilakukan pada pagi hari.

Kepala Kantor Basarnas Maumere, Fathur Rahman, menyampaikan bahwa jenazah ditemukan pada pukul 08.47 Wita oleh tim RIB KPJ 2007 Ditpolair Polda NTT saat melakukan penyisiran laut. Lokasi penemuan berada sekitar 1,13 mil laut dari titik tenggelamnya kapal.

“Jenazah ditemukan mengapung dan langsung dievakuasi menuju KN SAR Puntadewa, kemudian dibawa ke Pelabuhan Marina Labuan Bajo sebelum diserahkan ke RSUD Komodo,” ujar Fathur Rahman.

Jenazah tersebut dipastikan merupakan salah satu korban KM Putri Sakinah dan diketahui bernama Fernando Martin Carreras, yang disebut sebagai pelatih Valencia B. Penemuan ini terjadi pada hari yang sebelumnya direncanakan sebagai hari terakhir operasi pencarian, sehingga Tim SAR memutuskan untuk melanjutkan pencarian terhadap dua korban lainnya yang masih hilang.

Di sisi lain, penemuan korban ini memicu perbincangan luas di ruang publik, khususnya di media sosial. Perhatian publik tertuju pada beredarnya video seorang orang tua adat pesisir yang melakukan ritual adat sekitar pukul 06.00 Wita, dua jam sebelum jenazah ditemukan.

Banyak masyarakat menilai adanya keterkaitan waktu antara ritual adat tersebut dengan penemuan korban. Dugaan dan keyakinan publik pun menguat bahwa ritual adat menjadi bagian dari ikhtiar yang membuka jalan ditemukannya jenazah, terlebih setelah pencarian intensif selama lebih dari satu pekan sebelumnya belum membuahkan hasil.

Salah satu tanggapan publik disampaikan oleh Herinimus S. Sanjaya, yang menyebut bahwa keyakinan tersebut wajar muncul di tengah situasi penuh duka dan harapan.

“Secara teknis tentu penemuan korban adalah hasil kerja Tim SAR. Tetapi publik juga melihat ada ikhtiar batin melalui ritual adat. Dari situlah muncul keyakinan bahwa doa leluhur ikut berperan. Ini adalah cara masyarakat memaknai peristiwa kemanusiaan,” ujar Herinimus.

Ia menambahkan bahwa dalam budaya masyarakat pesisir, ritual adat bukan dimaksudkan untuk menandingi kerja profesional, melainkan sebagai bentuk doa dan penghormatan terhadap alam dan leluhur.

Pandangan serupa banyak disuarakan warganet yang menilai bahwa ketika seluruh upaya rasional telah dilakukan, tradisi leluhur masih dipercaya sebagai penguat harapan. Keyakinan tersebut berkembang sebagai ekspresi budaya dan spiritual masyarakat, bukan sebagai kesimpulan teknis atas proses pencarian.

Sementara itu, Tim SAR gabungan menegaskan bahwa operasi pencarian tetap dilakukan berdasarkan prosedur standar, perhitungan teknis, dan koordinasi lintas instansi. Unsur budaya dan kepercayaan publik berada di luar ranah teknis pencarian, namun menjadi bagian dari dinamika sosial yang menyertai tragedi tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa tragedi laut KM Putri Sakinah tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antara kerja profesional dan cara masyarakat memaknai harapan. Di tengah ketidakpastian, publik terus menggenggam keyakinan bahwa pencarian belum berakhir, dan dua korban lainnya masih dapat ditemukan.

 

Penulis: Sahrul S.Amran

Editor:Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *