Sampah Menumpuk di Labuan Bajo, Publik Tanyakan Keberadaan Pemda


LABUAN BAJO, BAJOPEDIA.COM– Labuan Bajo, kota yang selama ini dielu-elukan sebagai wajah pariwisata premium Indonesia, kini tengah diterpa masalah serius. Bukan karena minimnya fasilitas hotel atau buruknya pelayanan wisata, melainkan karena tumpukan sampah yang makin hari makin menggunung di jalur utama yang menghubungkan kota dengan sejumlah desa.

Pemandangan tersebut tampak jelas di jalur Trans Labuan Bajo–Terang, tepatnya di wilayah Desa Ngorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Di sisi kanan dan kiri jalan, sampah rumah tangga bercampur dengan limbah bangunan berserakan begitu saja tanpa penanganan.

Dari kejauhan, aroma tak sedap menyambut siapa saja yang melintasi area tersebut. Plastik kresek hitam, botol-botol bekas minuman, popok bayi, hingga kayu dan puing-puing terlihat berserak, seolah tak ada pengawasan dari pihak berwenang.

Setiap Hari Lewat, Setiap Hari Mengeluh

Yohanes, warga Desa Ngorang, sudah berkali-kali melintasi jalur itu untuk menuju kebunnya yang berada tak jauh dari lokasi pembuangan sampah liar tersebut. Namun bukan hasil panen yang ia pikirkan pagi itu melainkan kekhawatiran akan pencemaran lingkungan.

“Kalau ini terus dibiarkan, air bisa tercemar. Tanaman juga bisa rusak. Ini bukan hanya soal tampilan kota. Ini soal kesehatan masyarakat juga,” ujar Yohanes kepada BAJOPEDIA, Senin (7/7/2025).

Ia menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai lamban dan bahkan seolah menutup mata terhadap kondisi yang terjadi di lapangan. Menurutnya, masalah sampah ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi belum juga ada penanganan serius.

“Sampah-sampah ini bukannya berkurang, malah makin banyak. Harusnya pemerintah segera bertindak, jangan tunggu warga demo dulu,” tambahnya.

Kondisi Jalan Seperti TPS, Warga Terganggu Secara Fisik dan Psikis

Keluhan serupa juga datang dari Yanto, warga Kecamatan Boleng. Ia mengaku setiap hari merasa tidak nyaman karena harus menghirup bau menyengat saat melewati jalan tersebut.

“Bau menyengat sekali. Udara jadi tidak sehat. Saya heran, apakah tidak ada petugas kebersihan atau aparat yang melintas di jalan ini? Apa mereka tidak terganggu seperti kami?” ucap Yanto dengan nada kesal.

Menurutnya, lokasi pembuangan sampah tersebut berada di jalur vital yang kerap dilalui masyarakat, bahkan wisatawan. Hal ini jelas mencoreng wajah Labuan Bajo sebagai daerah tujuan wisata bertaraf internasional.

Sopir Angkutan Ikut Resah: “Labuan Bajo Punya TPA atau Tidak?”

Salah satu sopir angkutan dari wilayah Terang juga menyuarakan keprihatinan yang sama. Ia mempertanyakan keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) resmi di Labuan Bajo.

“Saya sudah sering lihat mobil bak terbuka buang sampah di sini. Jadi saya pikir, ini memang dibiarkan oleh pemerintah. Kalau begitu, Labuan Bajo ini punya TPA tidak sih? Kok buang di jalan?” katanya dengan nada geram.

Menurutnya, tidak masuk akal jika kota wisata sekelas Labuan Bajo tidak memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Ia khawatir, sampah yang menumpuk bukan hanya mengganggu warga, tetapi juga membuat wisatawan enggan datang kembali.

Labuan Bajo Super Premium Tapi Minim Kesadaran Sampah

Kondisi ini menjadi ironi, mengingat Labuan Bajo merupakan salah satu dari lima Destinasi Super Prioritas Nasional yang kerap menjadi lokasi berbagai event nasional dan internasional. Pemerintah pusat bahkan telah menggelontorkan dana besar untuk pembangunan infrastruktur pariwisata.

Namun di sisi lain, pengelolaan sampah sebuah aspek dasar dari tata kota justru tak tersentuh.

Warga menduga, tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah daerah juga disebabkan oleh lemahnya pengawasan, minimnya fasilitas pembuangan, serta tidak adanya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat soal pengelolaan sampah.

“Kalau tidak ada tempat buang sampah resmi, ya wajar orang buang sembarangan. Tapi salah juga kalau dibiarkan. Harusnya ada solusi dari atas,” ujar Yohanes lagi.

Belum Ada Tanggapan Resmi dari Pemda Manggarai Barat

Hingga berita ini diturunkan, INFOTIMUR belum mendapatkan pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat terkait persoalan darurat sampah ini.

Upaya konfirmasi kepada dinas lingkungan hidup setempat masih belum mendapatkan respons. Sementara warga terus berharap agar persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut.

“Sampah ini bukan sekadar kotoran. Ini simbol dari kelalaian, pembiaran, dan ketidakpedulian,” tutup Yohanes.

Jika dibiarkan, tumpukan sampah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kota ini bisa menjadi bumerang. Tak hanya bagi lingkungan, tapi juga bagi citra pariwisata Labuan Bajo yang sedang dibangun dengan susah payah.

Sementara dunia luar melihat Labuan Bajo sebagai permata pariwisata Indonesia, warga lokal justru hidup berdampingan dengan tumpukan sampah yang terus menggunung.

Penulis: Lois Halu

Editor: LH| Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *