
Oleh: Ir-Ham
Labuan Bajo pagi senja itu diselimuti embusan angin laut yang lembut dan sunset yang kian merona. Di salah satu sudut kota, sekelompok jurnalis berkumpul dalam sebuah cafe yang dipenuhi semangat dan harapan.
Hari itu, Kamis, 27 Februari 2025, menjadi momentum bersejarah bagi mereka—hari di mana Aliansi Jurnalis Manggarai Barat (AJ Mabar) menggelar Musyawarah Besar (Mubes) perdananya.
Bukan sekadar pertemuan biasa, Mubes ini adalah langkah awal bagi organisasi yang baru berusia enam bulan, sejak berdiri pada 17 Agustus 2024.
Ada banyak yang harus dibahas, banyak keputusan yang harus diambil. Di antara diskusi-diskusi serius, satu hal menjadi sorotan utama: bagaimana membangun organisasi ini di atas pijakan yang kuat, jujur, dan mandiri.
Di tengah suasana penuh antusiasme, Louis Mindjo, sosok yang dihormati sebagai penasihat AJ Mabar, berdiri di hadapan para jurnalis. Wajahnya tenang, tapi suaranya penuh keyakinan.
“Sebuah organisasi tanpa aturan adalah kapal tanpa kompas,” katanya. “Hari ini, kita bukan hanya memilih pemimpin, tapi juga menetapkan AD/ART dan kode etik yang akan menjadi pedoman kita. Ini bukan sekadar dokumen, melainkan fondasi agar kita tetap teguh dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis yang berintegritas.”
Di antara mereka yang hadir, Rio Suryanto, yang akhirnya terpilih sebagai ketua AJ Mabar, mengangguk setuju. Baginya, AD/ART bukan hanya aturan tertulis, tetapi janji yang harus dijaga bersama.
“Kami ingin memastikan bahwa organisasi ini tetap independen. Tidak boleh ada proposal, tidak boleh ada pendanaan dari pemerintah atas nama AJ Mabar,” ujar Rio. “Karena kebebasan pers adalah nyawa dari profesi ini, dan kami ingin menjaganya.”
Tegas, tetapi juga penuh kesadaran bahwa independensi bukan berarti menutup diri. Jika ada kebutuhan pribadi atau dukungan terhadap media tempat mereka bekerja dari pihak lain, itu boleh—selama tidak mengatasnamakan organisasi.
Labuan Bajo senja itu semakin lembut, bukan hanya oleh sinar matahari sayu yang menembus jendela, tetapi juga oleh tekad yang mengisi ruangan itu.
Para jurnalis ini tahu, tugas mereka tidak akan mudah. Tapi dengan prinsip yang mereka bangun hari ini, mereka yakin bisa melangkah lebih jauh.
Di luar ruangan, langit Labuan Bajo masih biru, seperti laut yang membentang luas. Dan di dalam hati para jurnalis ini, ada keyakinan bahwa hari ini bukan sekadar pertemuan, tapi awal dari sebuah perjalanan panjang—perjalanan untuk menjaga marwah jurnalisme, menegakkan kebenaran, dan memastikan suara masyarakat tetap didengar. ***













