Janji yang Tak Dibayar: Potret Ketimpangan Relasi Warga Lokal dan Industri Wisata di Labuan Bajo


LABUAN BAJO, BAJOPEDIA.COM –
Langit sore di Labuan Bajo perlahan menguning, memantulkan cahaya ke puluhan kapal wisata yang berbaris rapi di dermaga. Di antara pemandangan yang sering dipromosikan sebagai “surga pariwisata Indonesia” itu, terdapat cerita getir yang jarang terdengar publik cerita tentang janji yang diingkari dan warga lokal yang merasa hanya jadi penonton di tanah sendiri.

Salah satunya adalah Kaharuddin, pria paruh baya yang sejak muda bekerja di bidang jasa perkapalan. Ia dikenal di kalangan pelaku wisata sebagai pekerja keras, pengerti konstruksi kapal, dan pemilik salah satu kapal lokal yang pernah dijual kepada pelaku usaha wisata asing.

Tapi kerja keras dan kepercayaannya terhadap janji mitra bisnis justru berujung pada kekecewaan yang mendalam.

Dari Menjual Kapal ke Janji Manis yang Tak Pernah Datang

Beberapa tahun lalu, Kaharuddin menjual sebuah kapal miliknya kepada seorang Warga Negara Asing (WNA) yang disebut sebagai bagian dari manajemen PT Inside Komodo Trip, salah satu operator wisata bahari yang cukup dikenal di kawasan itu. Harga yang disepakati adalah Rp150 juta.

Namun, setelah transaksi dilakukan, pihak pembeli merasa kapal perlu dimodifikasi. Mereka kemudian meminta Kaharuddin untuk menambah panjang kapal sebanyak dua meter agar sesuai dengan kebutuhan operasional mereka. Tawaran ini datang dengan kesepakatan baru: biaya tambahan Rp60 juta, serta janji bonus besar bila pekerjaan selesai dengan baik.

“Orang asing itu bilang, kalau saya bisa selesaikan penambahan dua meter itu, saya bakal dapat bonus. Katanya, besar. Saya semangat sekali karena percaya dengan omongan mereka,” ujar Kaharuddin kepada Bajopedia.com, Senin (30/6/2025), di halaman rumahnya

Pekerjaan dilakukan. Kaharuddin mengerahkan tenaga dan waktu, bekerja siang dan malam. Baginya, bukan hanya soal uang, tapi menjaga nama baik dan profesionalitas sebagai warga lokal yang ingin dipercaya oleh dunia usaha wisata.

Namun, setelah pekerjaan rampung, bonus yang dijanjikan tak kunjung dibayar. Bahkan komunikasi dengan pihak perusahaan mulai renggang.

“Saya tunggu, saya tanya lewat orang-orang yang dekat dengan mereka. Tapi tidak ada jawaban jelas. Lama-lama seperti diabaikan,” katanya.

Ada Penghubung, Tapi Tidak Ada Penyelesaian

Dalam upayanya mencari kejelasan, Kaharuddin menyebut nama Alyas, seseorang yang ia yakini menjadi perantara antara dirinya dan pihak perusahaan. Ia berharap Alyas bisa menjembatani komunikasi dan menyampaikan janji yang belum ditunaikan. Tapi harapan itu pun perlahan pudar.

“Alyas tahu semua cerita ini. Dia yang banyak komunikasi dengan saya waktu itu. Tapi sekarang malah diam. Saya ini rasanya dimanfaatkan,” ujarnya.

Kaharuddin menekankan bahwa dirinya bukan menuntut sesuatu yang tidak disepakati, melainkan hak atas janji yang pernah diucapkan langsung oleh pihak pembeli kapal.

“Saya bukan orang yang paham hukum atau kontrak. Tapi saya tahu, kalau orang janji, harus ditepati. Saya kerja karena percaya, bukan karena saya bodoh,” katanya lirih.

Fenomena Lama di Kawasan Wisata

Salah satu sumber terpercaya Media menyampaikan bahwa, yang dialami Kaharuddin, menurutnya, bukanlah kasus tunggal. Ia mengaku mendengar banyak kisah serupa dari warga-warga lain di Labuan Bajo tentang janji yang tak ditepati, pembayaran yang tertunda, atau kerja sama yang tak seimbang.

“Kami di kampung ini sering dengar cerita begitu. Ada yang disuruh kerja, dijanjikan bayaran lebih, tapi setelah selesai, dikasih separuh. Ada juga yang kapalnya dipakai, tapi pembayaran molor berbulan-bulan,” jelasnya.

Fenomena ini menyoroti ketimpangan dalam relasi antara pelaku usaha wisata banyak di antaranya investor asing atau nasional yang masuk ke Labuan Bajo dengan masyarakat lokal yang berada di posisi rentan.

Sebagai daerah super prioritas pariwisata, Labuan Bajo menarik investasi besar-besaran. Namun, Kaharuddin dan warga lainnya merasa bahwa pemerataan manfaat belum benar-benar dirasakan, terutama oleh mereka yang hanya mengandalkan relasi informal dan janji lisan dalam kerja sama bisnis.

Harapan pada Pemerintah: Jangan Tutup Mata

Kaharuddin berharap kejadian yang menimpanya bisa menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Ia meminta agar ada pengawasan terhadap praktik perusahaan wisata, khususnya yang melibatkan warga lokal dalam kerja sama bisnis tanpa perlindungan hukum memadai.

“Kami ini bukan minta bantuan. Kami cuma mau hak kami dipenuhi. Kalau tidak diawasi, makin banyak orang lokal yang dirugikan seperti saya,” tegasnya.

Ia juga menyarankan agar pemerintah membentuk posko pengaduan atau mediasi untuk menyelesaikan konflik seperti ini secara damai namun adil.

“Kalau ada tempat mengadu, orang seperti saya tidak akan diam saja. Kami ini sering takut, atau bingung mau lapor ke mana,” tambahnya.

PT Inside Komodo Trip Belum Beri Tanggapan

Hingga berita ini ditulis, pihak PT Inside Komodo Trip belum memberikan klarifikasi atau jawaban resmi atas tudingan yang disampaikan oleh Kaharuddin. Tim redaksi Bajopedia.com telah menghubungi perusahaan melalui pesan singkat dan surel resmi, namun belum menerima balasan.

Sementara itu, Kaharuddin masih menunggu. Bukan sekadar menunggu bonus, tetapi menanti itikad baik bahwa di balik bisnis pariwisata mewah, ada nurani yang tetap menghargai kerja keras warga lokal.

Penulis: AA

Editor: Redaksi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *